Dibalik Viral Video Adu Jotos di Stasiun Duri: Sisi Gelap Kepadatan Jam Pulang Kerja
Ketegangan di ruang publik perkotaan kembali mencuat setelah sebuah rekaman video memperlihatkan aksi perkelahian antarpenumpang mendadak viral di berbagai platform media sosial. Peristiwa yang melibatkan dua orang pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) atau yang populer disebut sebagai anak kereta (anker) ini terjadi di tengah hiruk-pikuk aktivitas sore hari. Suasana transit yang padat mendadak berubah riuh ketika ketegangan personal antarpengguna bertransformasi menjadi kontak fisik secara terbuka di area publik stasiun.
Insiden tersebut dilaporkan berlangsung di area lantai 1 Stasiun Duri, Jakarta Barat, pada Rabu (4/11) sore, tepatnya sekitar pukul 17.05 WIB. Waktu kejadian yang bertepatan dengan jam kepulangan para pekerja membuat lokasi transit tersebut dipadati oleh ribuan orang yang lalu-lalang berpindah peron. Kepadatan volume penumpang harian ini sering kali memicu gesekan-gesekan kecil, yang dalam kasus ini berujung pada eskalasi emosi yang tidak terkendali di antara kedua subjek yang terlibat dalam keributan.
Berdasarkan rekaman video amatir yang beredar luas di dunia maya, ketegangan bermula ketika seorang pria berjaket merah muda tampak berlari mengejar seorang pria berjaket hitam. Suasana yang semula hanya berupa cekcok mulut mendadak memanas saat pria berjaket pink itu secara tiba-tiba mengayunkan tas yang dibawanya dan memukulkannya ke arah kepala pria berjaket hitam. Tidak terima diperlakukan demikian, pria berjaket hitam tersebut langsung melancarkan perlawanan spontan dengan membalas menggunakan beberapa kali pukulan hingga situasi di sekitar lokasi menjadi tontonan sekaligus meresahkan penumpang lain.
Melihat situasi yang semakin tidak kondusif, para petugas keamanan stasiun (PKT) bersama sejumlah penumpang lain yang berada di sekitar tempat kejadian dengan sigap bergerak cepat untuk melerai pertikaian tersebut. Berkat intervensi cepat dari petugas dan kepedulian sesama pengguna transportasi publik, aksi baku hantam itu berhasil diredam sebelum meluas menjadi keributan yang lebih besar. Setelah situasi mereda, kedua pria yang terlibat perselisihan tersebut langsung dipisahkan oleh petugas guna menghindari bentrokan susulan.
Terkait insiden yang menarik perhatian publik luas ini, pihak pengelola transportasi massal memberikan penjelasan resmi untuk meluruskan kronologi kejadian di lapangan. VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, membenarkan adanya peristiwa keributan antarpenumpang tersebut dan menjelaskan titik awal perselisihan yang terjadi di area transit stasiun penghubung yang padat itu.
“Dari keterangan yang didapat, kedua pengguna tersebut saling bersenggolan saat transit dari peron jalur 5 menuju peron jalur 2,” ujar Karina dalam keterangannya, Kamis (5/11/2026).
Pihak manajemen KAI Commuter juga menyayangkan terjadinya tindakan kekerasan verbal maupun fisik di fasilitas transportasi publik yang seharusnya menjadi ruang aman bagi mobilitas masyarakat. Guna mengantisipasi kejadian serupa terulang kembali, petugas di lapangan langsung mengambil langkah preventif dengan memisahkan serta mengawal kedua pria tersebut menuju peron jalur 1-2 agar mereka tidak berada dalam satu rombongan perjalanan yang sama.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya para pengguna harian KRL, mengenai krusialnya mengelola emosi di tengah tekanan mobilitas perkotaan yang tinggi. KAI Commuter secara aktif kembali mengingatkan seluruh pengguna jasa agar senantiasa mengutamakan keselamatan, menjaga ketertiban bersama, serta menumbuhkan sikap saling menghormati antarsesama penumpang. Pengguna juga diimbau untuk senantiasa menghindari segala bentuk tindakan provokatif yang dapat memicu keributan di ruang publik, terutama pada jam-jam sibuk saat intensitas transit penumpang berada di titik puncaknya.
