Jumat, 16 Okt 2026 BisnisHypeInfografisMomNews
Beranda › News
News

Sektor Pariwisata Singapura dan Malaysia Tertekan Dampak Kabut Asap Kebakaran Hutan Indonesia

✍️ Admin 🕒 16 Oct 2026 👁️ 0x dibaca
Kabut asap dari Indonesia sampai juga ke Singapura
Kabut asap dari Indonesia sampai juga ke Singapura Foto: Kokkai Ng/Reuters

JAKARTA — Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerpa sejumlah wilayah di Indonesia tidak lagi hanya menjadi persoalan domestik, melainkan telah melintasi batas negara dan mengancam stabilitas ekonomi kawasan regional. Sektor pariwisata di negara tetangga, khususnya Singapura dan Malaysia, kini mulai merasakan dampak langsung dari sebaran kabut asap tebal tersebut. Penurunan jumlah wisatawan serta pembatalan pemesanan aktivitas luar ruangan (outdoor) memaksa para pelaku usaha di industri pelancongan memutar otak dan merombak strategi operasional mereka agar bisnis tetap bertahan di tengah penurunan kualitas udara.

Kondisi paparan asap yang memburuk sejak awal Oktober telah memicu gangguan signifikan terhadap aktivitas turis. Angin tenggara membawa kepulan asap tebal dari titik-titik kebakaran hutan di Sumatra bagian selatan dan Kalimantan langsung ke arah kawasan Semenanjung Malaysia dan Singapura. Akibatnya, indikator kualitas udara yang dipublikasikan oleh Badan Lingkungan Nasional Singapura (National Environment Agency/NEA) menunjukkan angka konsentrasi partikel berbahaya PM2.5 yang sempat melonjak drastis hingga mencapai level sangat tinggi. Parameter pencemaran udara yang melampaui batas aman ini membunyikan alarm bahaya bagi kesehatan publik sekaligus merusak kenyamanan liburan para wisatawan domestik maupun mancanegara.

Dampak penurunan kualitas udara tersebut paling dirasakan oleh para penyedia jasa tur ruang terbuka. Sektor usaha yang mengandalkan aktivitas eksplorasi fisik di area terbuka mencatatkan penurunan jumlah klien yang tajam. Penyedia paket wisata berjalan kaki (walking tour) maupun penyewaan skuter (kick scooter) melintasi landmark populer Singapura mengalami penurunan volume pemesanan berkisar antara 10 hingga 20 persen jika dibandingkan dengan tren pada periode yang sama tahun sebelumnya. Para pelancong makin enggan terpapar udara terbuka berisiko tinggi dalam durasi panjang.

Tekanan bisnis yang jauh lebih berat menghantam para pengusaha wisata bahari dan pelayaran kapal pesiar (yacht/cruise) perairan terbuka. Berbeda dengan tur darat yang fleksibel untuk dialihkan, usaha penyewaan kapal pesiar tidak memiliki banyak opsi perhentian alternatif saat laut dan udara diselimuti jarak pandang terbatas serta kabut berbahaya. Sejumlah penyedia charter kapal pesiar terbuka melaporkan penurunan omzet hingga mencapai 30 persen sejak memasuki September dan Oktober. Penurunan permintaan ini terutama berasal dari ceruk pasar wisatawan mancanegara seperti China, India, Eropa, Australia, hingga Amerika Serikat yang biasanya memadati jasa wisata bahari kawasan tersebut.

Sebaliknya, ketahanan bisnis yang sedikit lebih stabil ditunjukkan oleh penyedia jasa transportasi wisata berdurasi singkat. Penyedia tur menyusuri sungai seperti Singapore River Cruise mencatatkan dinamika yang relatif netral tanpa fluktuasi penurunan pelanggan yang signifikan. Durasi perjalanan yang terbilang singkat, yakni sekitar 40 menit per trip menjadi alasan utama mengapa para penumpang masih bersedia mengambil tur tersebut. Meskipun demikian, penurunan angka kedatangan turis mancanegara secara umum tetap membayangi proyeksi pendapatan mereka hingga beberapa bulan ke depan.

Menghadapi tantangan lingkungan ini, para pelaku industri perjalanan di Singapura dan Malaysia melancarkan berbagai langkah adaptasi strategis. Di Singapura, rute perjalanan wisata luar ruangan segera dimodifikasi dengan memasukkan destinasi persinggahan dalam ruangan (indoor) yang dilengkapi fasilitas pendingin udara dan penyaring udara. Objek-objek wisata seperti National Gallery, Victoria Theatre and Concert Hall, galeri sejarah, hingga museum-museum utama dijadikan sebagai rute pengalihan agar wisatawan terlindungi dari paparan langsung polusi udara.

Langkah serupa juga diambil oleh para operator pariwisata di Malaysia. Asosiasi pariwisata setempat mendorong para agen tur untuk secara proaktif memangkas durasi kunjungan di ruang terbuka. Sebagai gantinya, porsi itinerary perjalanan wisatawan dialihkan pada aktivitas-aktivitas berbasis ruangan, seperti eksplorasi pusat perbelanjaan, wahana rekreasi tertutup, serta museum kebudayaan. Penyesuaian-penyesuaian ini dipandang sebagai jalan tengah demi menjaga kepuasan dan keselamatan fisik para turis tanpa mematikan seluruh kegiatan bisnis usaha pariwisata.

Sementara itu, krisis kabut asap lintas negara ini makin memperkeruh hubungan diplomatik dan kerja sama pertahanan lingkungan hidup di tingkat regional. Mengingat penurunan kualitas udara yang kian mengkhawatirkan dan telah mengganggu berbagai aktivitas publik, mulai dari penerbangan, aktivitas sekolah, hingga sektor pariwisata, pemerintah Malaysia dan Singapura telah menyampaikan dorongan agar langkah pemadaman kebakaran hutan intensif segera direalisasikan. Malaysia bahkan telah menawarkan pengerjaan bantuan penanggulangan kebakaran dengan menyiagakan armada pesawat pemadam, helikopter, serta personel berpengalaman untuk dikirim ke lokasi-lokasi karhutla di Sumatra dan Kalimantan.

Di tengah dinamika penanganan bencana karhutla dan penyesuaian sektor wisata tersebut, berbagai pemangku kepentingan telah menyampaikan pandangan serta tanggapan resminya secara langsung sebagaimana berikut:

"Asap tidak mengenal batas negara. Karena itu, pencegahannya membutuhkan tanggung jawab bersama, kerja sama regional, dan keputusan yang didasarkan pada ilmu pengetahuan,"

"Udara bersih adalah hak, bukan bonus saat liburan."

A
AdminPemimpin Redaksi
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update